Senin, 18 Februari 2013

" Tips Ampuh Agar Suara Menjadi Merdu"


Memiliki suara merdu dan enak didengar adalah idaman setiap orang. Apalagi bagi yang hobynya menyanyi pasti sangat menginginkan hal tersebut. Oleh karena itu, saya akan berbagi sedikit Tips Ampuh Agar Suara Menjadi Merdu dan Indah. Langsung saja ikuti beberapa tips berikut :

 1. Perbanyak Minum Air Putih
Minum air putih minimal 8 gelas per hari, dapat juga memperindah pita suara kita. Karena pita suara kita, jika ingin bagus, harus dikondisikan selalu basah. Dapatkan juga air dari buah-buahan agar lebih sehat. Minum juga air putih setelah anda bangun pagi . Karena selain dapat menyehatkan tubuh, minum air putih saat bangun pagi, dapat memperbaiki pita suara. Tetapi jangan menggosok gigi dulu.

2. Jangan Merokok
Merokok dapat menyebabkan kanker. Selain itu, dapat mengganggu pernafasan. Jadi, berhentilah merokok jika anda sekarang merokok.

3. Minum Ramuan Berikut
Anda dapat meminum ramuan alami yang dipercaya dapat memperindah suara anda. Berikut resep untuk membuat ramuan tersebut : .

Bahan-Bahan :
-Jeruk Nipis (2 buah)
- Kapur Sirih (seujung kuku)
- Garam (secukupnya)
- Madu Asli (1 sendok)

Cara Pembuatan :
- Potong Jeruk Nipis masing-masing menjadi dua bagian
- Peras dan ambil airnya
- Campur kapur sirih, sedikit garam dan satu sendok makan Madu Asli

Aturan Pakai :
Minum Ramuan ini sampai habis. Lakukan setiap 1 minggu sekali, maka dalam waktu sebulan suara anda akan menjadi merdu.
Untuk menjaga suara dan terpelihara dengan baik, minum ramuan ini diatas dua kali dalam sebulan maka suaranya tambah merdu dan awet.

Selasa, 12 Februari 2013

"The Help''


Aibileen Clark (Viola Davis) adalah pembantu rumah pertengahan umur hitam yang telah menghabiskan hidupnya membesarkan anak-anak putih dan baru-baru ini telah kehilangan satunya anak. Minny Jackson (Octavia Spencer) adalah satu lagi pembantu rumah hitam yang outspokenness telah mendapat banyak pula arang dan membangun reputasi untuk menjadi seorang karyawan yang sulit, tetapi dia untuk ini dengan keahlian memasak yang luar biasa beliau.
Eugenia "Skeeter" Phelan (Emma Stone) adalah seorang wanita muda putih yang baru-baru ini telah pindah balik rumah ladang keluarganya setelah menyelesaikan pendidikan dari [[Universitas Mississippi] [4] menemukan bahwa anak-anak pembantu rumah kekasihnya, Constantine (Cicely Tyson ), telah berhenti sementara ia keluar. Skeeter adalah skeptikal karena dia percaya Constantine telah menulis kepadanya.
Berbeda dengan rekan-rekannya yang menghadiri universitas untuk mencari suami, Skeeter menemukan teman-temannya semua menikah dan memiliki anak, sementara dia masih bujang, memiliki ijazah dan mau memulai karir sebagai seorang penulis. Pekerjaan pertamanya sebagai "petunjuk suri rumah" kolumnis dalam karya lokal, dan dia meminta Aibileen, pembantu rumah ke Elizabeth rekan baik beliau, untuk bantuan beliau dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan domestik. Skeeter menjadi tidak nyaman dengan sikap rekan-rekannya ke arah "membantu," mereka terutama berbukit Holbrook (Bryce Dallas Howard) dan "Home Bantuan Sanitasi Inisiatif," rang undang-undang yang diusulkan untuk mengadakan ketentuan bagi kamar mandi terpisah untuk bantuan hitam karena ia percaya bahwa 'mereka' [orang hitam] membawa penyakit yang berbeda kepada 'kita' [orang kulit putih]. Di tengah-tengah era diskriminasi berdasarkan warna, Skeeter adalah salah satu dari beberapa orang-orang yang beriman, jika tidak, dan dia memutuskan untuk menulis buku, Bantuan, berdasarkan kehidupan pembantu rumah yang telah menghabiskan seluruh hidup mereka menjaga anak putih.
Pembantu rumah pada awalnya enggan berbicara kepada Skeeter, karena mereka takut bahwa mereka akan kehilangan pekerjaan atau lebih parah lagi. Aibileen adalah yang pertama untuk berbagi cerita setelah dia mendengar inisiatif yang berbukit itu dan sadar bahwa anak-anak yang mana dia telah meningkatkan membesar menjadi seperti orang tua mereka. Rekannya, Minny, baru saja dipecat sebagai pembantu rumah berbukit untuk menggunakan kamar mandi mereka saat badai puting beliung tidak akan menggunakan toilet luar yang terpisah. Racun berbukit semua keluarga lain terhadap Minny membuat mustahil bagi dia untuk menemukan pekerjaan lain, dan anak perempuannya dipaksa untuk menggugurkan sekolah untuk mencari pekerjaan sebagai pembantu rumah. Minny awalnya enggan untuk mengambil bagian dalam buku Skeeter tetapi kemudian setuju untuk berbagi cerita sebagai. Aibileen membantu beliau mencari kerja dengan Celia Foote (Jessica Chastain), yang menikah dengan sosialit kaya (Mike Vogel), tetapi adalah makhluk yang diusir dari wanita masyarakat lainnya yang dibayarkan kepada fakta yang dia dilahirkan ke keluarga kelas pekerja dan suaminya adalah teman mantan berbukit . Juga tidak seperti berbukit, Celia seolah-olah untuk merawat Minny tersebut jauh lebih.
Skeeter menulis 1 draf cerita dengan Minny dan cerita Aibileen itu di dalamnya dan mengirim ia untuk Miss Stein (Mary Steenburgen), editor untuk Row Harper, di New York, yang dipikirkan ada bisa menjadi beberapa kepentingan di dalamnya, tetapi membutuhkan kontribusi pembantu rumah 'paling -kurangnya selusin lebih sebelum ia bisa menjadi sebuah buku yang layak. Mempercayai bahwa buku itu hanya akan menjadi patut diterbitkan selama Gerakan Hak Sipil, yang dia begitu juga percaya adalah ikutan lulus, Stein menasehati Skeeter untuk menyiapkan buku tersebut tidak lama lagi. Tiada siapa yang datang ke depan sehingga setelah Medgar Evers yang dibunuh di Jackson, Mississippi, dan sehingga setelah setelah menyaksikan penangkapan kejam pembantu rumah berbukit terakhir. (Untuk pajak gadai salah satu cincin berbukit itu membayar untuk tuisyen kolej kembar dia ', setelah berbukit telah enggan untuk memberi pinjaman) - dengan ketegangan antara kaum berjalan tinggi, pembantu rumah menyadari bahwa buku Skeeter akan memberi mereka peluang untuk suara mereka didengar, dan Skeeter tiba-tiba memiliki banyak cerita untuk memasukkan. Saham minny satu cerita lepas dengan Skeeter dan Aibileen, yang dia panggilan "Awful Mengerikan," untuk memastikan bahwa tidak ada yang akan mengungkapkan bahwa buku itu telah ditulis mengenai Jackson, Mississippi. Sebagai balas dendam untuk menembak beliau dan menuduh beliau mencuri, Minny membakarnya pai coklat dan menyampaikan kepada berbukit. Setelah berbukit telah selesai dua keping, Minny memberitahu bahwa beliau telah dibakar najis sendiri ke dalam pai. Minny memberitahu Aibilene dan Skeeter bahwa dengan menambahkan bagian itu ke dalam buku, berbukit akan mencoba untuk mencegah siapa saja dari memikirkan bahwa dia membuat dia makan kotoran manusia dan akan meyakinkan kota bahwa buku itu tidak adalah sekitar Jackson. Buku ini hampir selesai kecuali cerita sendiri Skeeter yang dibawa oleh Constantine. Skeeter mengelola untuk mengetahui apa yang terjadi kepada Constantine saat ibunya, Charlotte (Allison Janney), akhirnya menjelaskan bahwa dia melepaskan dia untuk menyelamatkan muka saat penerimaan. Setelah itu merasa bersalah tentang hal itu, Charlotte mengirim saudara Skeeter untuk membawa Constantine rumah dari Chicago di mana dia hidup dengan Rachel anak perempuannya, tetapi dia menemukan bahwa dia telah meninggal dunia tidak lama setelah meninggalkan Jackson.
Buku itu diterima untuk publikasi dan adalah satu kesuksesan, banyak untuk menyenangkan Skeeter dan pembantu rumah. Dia berbagi royalti dengan setiap pembantu rumah yang menyumbang, dan ditawarkan pekerjaan dengan perusahaan penerbitan di New York. Beliau memberitahu teman lelakinya tentang pekerjaan dan buku, dan dia segera tercetus dengan dia. Pada sebelah petang pula, hac berbukit rencana untuk menyingkirkan Aibileen sebagai bantuan Elizabeth, dengan membuat tuduhan palsu terhadap mencuri perak dan mengatur untuk pertemuan. , Sebagai Aibileen mencoba untuk meyakinkan berbukit dan Elizabeth (ahna O'Reilly) dia tidak bersalah, anak perempuan Elizabeth, Mae Mobley, tiba dan lompat pada dia, menonton Aibileen dipecat. Aibileen mengutuk berbukit sebagai seorang wanita kafir dan berkata bahwa dia tidak pernah akan mendapat ketenangan jika dia terus cara pendendam dan meninggalkan beliau dalam kondisi terlantar. Elizabeth dipaksa untuk menerima tembakan tidak bisa diterima Aibileen, dan Mae Mobley menangis oleh jendela menjerit untuk Aibileen, sebagai pembantu rumah itu meninggalkan untuk memulai kehidupan sendiri. Dan Skeeter meninggalkan Jackson untuk memulai hidup baru sebagai seorang penulis di New York.

"Wall-E"


Pada awal abad ke-22, sebuah perusahaan "raksasa" Buy N Large (BnL) menguasai perekonomian di Bumi, termasuk pemerintahan. Akibat dipenuhi sampah yang tidak didaur-ulang, maka Bumi menjadi sangat tercemar oleh sampah-sampah elektronik, sehingga kelangsungan hidup manusia menjadi terancam. Untuk mencegah kepunahan manusia, Shelby Forthright (Fred Willard) selaku CEO Buy N Large, melakukan pengungsian massal dari Bumi selama lima tahun di atas armada kapal luar angkasa eksekutif bernama axiom yang menyediakan setiap keperluan manusia, dan dilengkapi dengan robot-robot yang semuanya berjalan secara otomatis untuk melayani kebutuhan manusia.
Ratusan-ribu unit robot penghancur sampah yang dinamai dengan WALL•E ditinggalkan di Bumi untuk membersihkan Bumi. Robot-robot tersebut diprogram untuk memadatkan dan menumpuk sampah-sampah elektronik yang telah memenuhi seluruh daratan di Bumi, agar memudahkan untuk peleburan. Tumpukan sampah-sampah elektronik telah dipadatkan dan dikumpulkan oleh robot-robot WALL•E, tumpukan sampah tersebut telah setinggi gedung pencakar langit. Namun, proyek ini dibatalkan karena Forthright memperkirakan bahwa pada tahun 2110 Bumi sudah terlalu tercemar dan sudah tidak memungkinkan untuk dihuni oleh manusia. Pada tahun 2815, kira-kira 700 tahun kemudian, hanya satu WALL•E yang masih berfungsi.
Berabad-abad kehidupan telah dilalui oleh WALL•E, sehingga ia memiliki kecerdasan yang lebih baik dan rasa keingin-tahuan. Ia gemar mengoleksi barang-barang yang menarik di tumpukan sampah yang memenuhi Bumi, mengambil onderdil untuk suku cadangnya dari WALL•E lain yang sudah tidak aktif. Ia sering menonton film musikal tahun 1969 yang berjudul Hello, Dolly! dari kaset video. Video lainnya yang ia nikmati adalah Put on Your Sunday Clothes, dan adegan berpegangan tangan dalam video "It Only Takes a Moment" yang mengajarnya memiliki perasaan.
Pada suatu hari, WALL•E menemukan sebuah bibit tumbuhan, lalu menanamnya dalam sebuah sepatu usang. Tidak lama kemudian, sebuah kapal luar angkasa mendarat di Bumi dan mengeluarkan EVE (Elissa Knight), sebuah robot perempuan yang dikirim oleh pesawat raksasa yang bernama Axiom, ia diprogramkan untuk mencari tanda-tanda kehidupan flora di Bumi. WALL•E jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya, EVE juga mengagumi kepribadian WALL•E. Sungguh disayangkan, ternyata cinta WALL•E tidak terbalaskan, karena EVE diprogramkan untuk mencari keberadaan tumbuhan di Bumi. SaatWALL•E menunjukkan bibit tumbuhan yang ditemukannya kepada EVE, EVE menyimpan bibit itu ke dalam tubuhnya, setelah itu EVE menjadi non-aktif secara otomatis. WALL•Eberusaha melindungi tubuh EVE yang tidak berstatus non-aktif sampai EVE diambil kembali oleh pesawat yang mengantarnya ke Bumi. Dengan rasa gelisah dan panik, WALL•Emengejar pesawat itu. WALL•E berhasil menyusup ke dalam pesawat Axiom.
Setelah berabad-abad hidup dalam mikrogravitasi, manusia di pesawat Axiom banyak kehilangan kalsium, sehingga membuat mereka menjadi sangat gemuk dan tidak mampu berdiri atau berjalan. Aktivitas manusia sepenuhnya dilayani oleh robot. Pilot pesawat Axiom adalah Kapten B. McCrea (Jeff Garlin) juga memerintahkan segala tugasnya kepada sistemautopilot pesawat yang bernama AUTO (suara program MacInTalk). Saat WALL•E mengikuti EVE ke dalam kapal, kelakuannya yang tidak biasa, menyebabkan manusia dan robot bertindak tidak seperti biasanya. Khususnya M-O, robot dekontaminasi yang diprogramkan untuk membersih setiap pencemaran di dalam pesawat , ia mengejar WALL•E supaya ia dapat membersihkan kotoran asing yang bersumber dari Bumi, dan dua orang manusia bernama John (John Ratzenberger) dan Mary (Kathy Najimy) yang sebelumnya hanya melihat melalui media elektronik berupa monitor, sehingga mereka melihat pemandangan secara langsung karena WALL•E membuat mereka terlepas dari monitor yang terpasang di tempat duduk mereka.
Setelah sampai di dalam pesawat, EVE diaktifkan kembali dan diprogram untuk mengantar bibit tadi kepada McCrea agar diletakkan dalam alat pendeteksi yang dinamai holo-detector. Alat tersebut adalah sebuah mesin pendeteksi yang berfungsi memberikan informasi bahwa manusia dapat kembali hidup di Bumi, dan akan mengembalikan manusia ke Bumi secara otomatis setelah mendeteksi bibit tadi yang merupakan pedoman yang memungkinkan manusia untuk kembali hidup di Bumi. Sewaktu akan mendeteksi tumbuhan yang terdapat dalam tubuh EVE, bibit itu hilang. EVE dianggap telah rusak dan dikirim ke bagian perbaikan robot bersama WALL•E. Saat EVE diperiksa, WALL•E menyangka EVE akan dihancurkan oleh mesin pemeriksa tersebut, lalu ia merampas senjata plasma EVE dan menembakkannya, sehingga membebaskan robot-robot rusak lainnya di ruang perbaikan. Tindakan WALL•E menjadi ancaman bagi setiap penghuni pesawat Axiom, EVE dan WALL•E menjadi buronan yang dianggap robot berbahaya. EVE yang tidak tahan dengan sikap WALL•E, mencoba mengantarnya kembali ke Bumi dengan menggunakan sebuah kabin.
Saat asisten utama McCrea (GO-4) tiba dan menyimpan bibit yang hilang itu ke dalam kabin; GO-4 yang mencurinya tanpa diketahui McCrea. Melihat bibit tersebut, WALL•E memasuki kabin tempat diletaknya bibit tersebut. GO-4 akan menghancurkan kabin tersebut dengan mengaktifkan program penghancuran secara otomatis sehingga akan meledak setelah hitungan mundur 20 detik. Saat ituWALL•E berada di dalam kabin tersebut, namun WALL•E berhasil meloloskan diri bersama bibit itu sedetik sebelum musnahnya kabin tadi. EVE lega karena WALL•E menyelamatkan bibit itu dan mereka terbang dengan bahagianya di angkasa sekitar pesawat Axiom.
EVE dan WALL•E mengembalikan bibit itu kepada McCrea. Kapten McCrea ingin mengetahui bagaimana keadaan Bumi pada saat ini, lalu McCrea memutar rekaman yang direkam oleh kamera yang terpasang pada EVE, yang membuat EVE menyaksikan usahaWALL•E melindunginya ketika ia dalam status non-aktif. Akhirnya, EVE juga jatuh cinta pada WALL•E. Terpesona oleh gambar-gambar kehidupan zaman dulu di Bumi sebelum berdirinya Buy N Large, McCrea perihatin melihat kerusakan alam di Bumi yang digambarkan dalam rekaman EVE. Kemudian McCrea merencanakan agar manusia kembali ke Bumi untuk memulihkan segalanya. Namun, AUTO menegaskan bahwa manusia tidak boleh kembali ke Bumi, lalu ia terpaksa menampilkan tayangan berupa rekaman Shelby Forthright yang memerintahkan semua autopilot agar tidak mengembalikan manusia ke Bumi, karena proyek pembersihan yang diusahakan telah gagal. AUTO yang dirancang untuk menuruti perintah tersebut, memberontak dan membuang bibit tumbuhan tersebut. Dalam memperebutkan bibit itu, AUTO dengan ganasnya menyerang WALL•E yang mencoba melindungi bibit itu dan menekan tombol non-aktif di badan EVE. WALL•E dan EVE dibuang ke tempat pembuangan sampah bersamaan dengan bibit tadi, dan mengunci McCrea di dalam kamarnya.
Di tempat pembuangan sampah, EVE kembali aktif setelah sebuah tombol yang ada di dada EVE tersentuh oleh serangga. EVE berusaha mencari WALL•E, setelah menemukannya EVE melihat WALL•E telah rusak berat. Ia berusaha memperbaiki WALL•E, tapi usahanya sia-sia karena tidak ada komponen tubuh WALL•E yang cocok dengan yang ia temukan. Pada saat proses pembuangan sampah diaktifkan, gerbang pembuangan terbuka. Saat itu juga datang M-O yang mengejar WALL•E karena ingin membersihkan kotoran asing yang melekat di tubuh WALL•E. Kemudian M-O terjepit gerbang yang tertutup setelah sampah beserta WALL•E dan EVE dikeluarkan dari tempat pembuangan. Gerbang tidak sepenuhnya tertutup karena M-O terjepit pada gerbang saat mengejarWALL•E untuk membersihkan kotoran asing. Kesempatan ini digunakan oleh EVE untuk menyelamatkan diri dari pembuangan.
Setelah berhasil menyelamatkan diri dari tempat pembuangan sampah dengan bantuan M-O, EVE menolak perintah otomatis yang telah diprogramkan untuk membawa bibit ke pesawat. Ia masih berusaha untuk memperbaiki WALL•E, tapi WALL•E berharap EVE menuruti perintah tersebut sambil mengingatkan EVE jika seandainya mereka berhasil kembali ke Bumi, WALL•E dapat diselamatkan dengan suku cadang yang disimpannya.
WALL•E dan EVE membawa bibit tadi untuk diletakkan di mesin pendeteksi yang ada di pesawat Axiom dengan bantuan M-O. Mereka berdua dibantu McCrea yang menyuruh mereka agar cepat ke mesin pendeteksi tersebut, mereka juga dibantu robot-robot rusak yang membantu mereka dengan melawan robot-robot penjaga. McCrea membohongi AUTO dengan mengatakan bahwa bibit itu ada padanya, dengan mengelabui AUTO melalui visual dari monitor. Kemudian AUTO mendatangi McCrea, lalu mereka berkelahi. McCrea berhasil mengaktifkan mesin pendeteksi, mengakibatkan AUTO memiringkan posisi Axiom, mengakibatkan manusia-manusia yang tidak dapat berjalan menjadi berjatuhan dan tertumpuk di sudut pesawat. Auto mencoba menutup mesin pendeteksi tersebut, namun ditahan WALL-E dengan mengorbankan tubuhnya. McCrea berusaha untuk berdiri dan berjalan untuk mendekati dan mengalahkan AUTO. Pada saat perkelahian dengan AUTO, McCrea melihat tombol merah yang terbuka di bagian tubuh AUTO. Lalu McCrea menekan tombol tersebut, sehingga AUTO yang merupakan pengendali pesawat Axiom menjadi berstatus manual. McCrea dapat dengan sepenuhnya mengendalikan AUTO, dan mengembalikan posisi Axiom ke posisi semula. Akhirnya, bibit berhasil dimasukkan ke dalam mesin pendeteksi (holo-detector), dan melepaskan WALL•E yang bertambah rusak karena terjepit mesin pendeteksi yang akan menutup. Setelah bibit tadi dimasukkan ke dalam holo-detector, pesawat Axiom menuju ke Bumi dengan kecepatan cahaya.
Setelah mendarat di Bumi, EVE bergegas memperbaiki dan menghidupkan kembali WALL•E dengan menggunakan suku cadang yang ada di tempat tinggal WALL•E. Sayangnya, WALL•E telah rusak berat dan hampir semua komponennya ditukar oleh EVE dengan yang baru. Meskipun WALL•E telah diperbaiki dengan sempurna, tapi WALL•E bukanlah WALL•E yang dikenal EVE. WALL•E telah menjadi WALL•E yang diprogram untuk mengerjakan tugasnya dan tidak memiliki perasaan dan ingatan yang dimiliki WALL•E yang EVE kenal. EVE sedih karena WALL•E yang dicintainya sudah tiada, EVE memegang tangan WALL•E lalu menempelkan kepalanya ke kepala WALL•E (bermakna ciuman). Percikan listrik dari “ciuman” tadi memulihkan ingatan dan kepribadian WALL•E, lalu dia dapat mengingat EVE dan bahagia karena dapat berpegangan tangan dengan EVE.
Manusia dan robot bekerjasama dalam memperbaiki kehidupan di Bumi dengan harapan baru, di bawah pimpinan McCrea. Akhirnya, kehidupan yang normal dapat dinikmati kembali oleh manusia. Seiring waktu dan kerjasama manusia dengan robot, Bumi kembali normal seperti sedia kala. Mengenai kelanjutan kehidupan manusia beserta para robot di Bumi, dapat dilihat pada lukisan-lukisan yang terdapat pada kredit penutup dalam film animasi ini.

"UP"


Carl Fredricksen (Edward Asner) adalah bocah pendiam yang bersahabat dengan cewekTomboy bernama Ellie, yang ternyata sama-sama mengidolakan Charles Muntz, seorang penjelajah. Kemudian Carl dan Ellie menikah. Kehidupan mereka yang diperlihatkan tanpa adegan berbicara terlihat sangat bahagia, dengan musik yang ceria dan obsesi pertama mereka adalah memiliki anak. Setelah mempersiapkan segalanya, kenyataan berubah ketika Ellie dinyatakan oleh dokter bahwa ia tidak dapat hamil. Sesaat musik menjadi lebih lambat dan sedih, namun kembali menjadi semangat saat Carl dan Ellie berusaha menyisihkan pendapatan mereka untuk terbang ke Paradise Falls, tempat Charles Muntz tadi. Namun, tetap saja halangan selalu muncul sehingga mereka selalu memakai uang dari tabungan tadi, sampai akhirnya mereka berdua menjadi kakek-nenek. Carl, yang menyadari obsesi mereka belum tercapai membeli tiket ke Amerika Selatan, dan ingin memberikan kejutan untuk Ellie. Namun, sebelum impiannya tercapai, Ellie terlebih dahulu meninggal dunia. Hal ini menyebabkan Carl benar-benar kehilangan semangat hidup dan menjadi pendiam dan tertutup.
Pagi itu, seperti biasanya Carl bangun pagi dan menjalankan aktivitasnya. Ia keluar, duduk dikursi rumahnya yang telah dikelilingi sebuah pekerjaan konstruksi, mengisyaratkan bahwa rumahnya juga akan digusur sebentar lagi. Ia pergi untuk mengecek kotak surat, dan sempat berbincang-bincang dengan salah satu pekerja konstruksi. Saat sedang menonton TV, ia bertemu dengan Russell (Jordan Nagai), seorang pramuka yang bersemangat dan akan membantunya melakukan apa saja. Setelah ditipu oleh Carl, Russell pergi dan Carl melihat kotak suratnya hampir lepas karena ditabrak sebuah tronton. Carl marah dan memukul salah satu petugas, yang melukai kepalanya - membuatnya diseret ke pengadilan dan akhirnya hak untuk rumah dan tanahnya jatuh ke tangan bos dari pekerja konstruksi tadi. Setelah itu, ia dikabarkan bahwa besok pagi akan dijemput oleh panti jompo. Saat ia akan membereskan pakaiannya, ia melihat buku petualangan dari Ellie dan menyadari apa yang tidak dilakukannya. Malam berlalu dan pagi datang.
Petugas panti jompo telah siap di depan rumah Carl, dan Carl meminta sedikit waktu untuk berpamitan pada rumahnya. Saat petugas tadi menuju mobil, ternyata rumah Carl telah dipasangi sepuluh ribu balon gas helium, tekanan balon yang sangat kuat membuat retakan diseluruh bagian bawah rumah, dan menerbangkan rumah tersebut. Carl bersuka cita karena ia berhasil memindahkan rumahnya dan Ellie dan bersiap untuk terbang ke Paradise Falls. Saat sedang santai di dalam rumahnya, ia terkejut mendengar ketukan pintu yang sama saat Russell datang tadi. Ia sempat tidak mengacuhkannya, namun akhirnya ia buka pintunya dan menyadari bahwa Russell benar-benar terbawa bersamanya. Dan dimulailah petualangan mereka, pertama mereka menghadapi sebuah awan hujan dan petir, yang menyebabkan Carl pingsan. Setelah ia sadar, ia tahu bahwa ia telah sampai di Paradise Falls, namun tidak bisa kembali kedalam rumahnya karena ia terjatuh. Lalu ia dan Russell berjalan sambil membawa rumah tersebut dengan menariknya dengan tali menuju ke tengah-tengah Paradise Falls,tempat dimana dia dapat melihat air terjunnya jatuh secara nyata.
Di hutan, Russell menemukan Kevin, seekor burung raksasa yang menyerupai burung unta, dan mereka menjadi sahabat baik karena Kevin menyukai cokelat, dan Russell punya banyak coklat. Carl sempat tidak menyukai Kevin, sampai ia bertemu lagi dengan Dug, seekor anjing yang dapat bicara dengan sebuah translate collar. Mereka berempat mengalami petualangan, sementara Doug mempunyai tiga teman (atau musuh) anjing yang diberi nama Alfa, Beta, dan Delta. Lalu Carl tahu bahwa yang mempunyai Doug, Alfa, Beta, Delta, dan anjing-anjing lainnya adalah Charles Muntz, pahlawannya dari kecil. Charles Muntz yang diusir oleh masyarakat kota tempat asalnya karena telah dianggap menyebarkan berita bohong tentang makhluk asing dari Paradise Falls,yang ternyata bukannya kebohongan, ia mempunyai susunan tulang tersebut, dan akhirnya Carl menyadari bahwa tulang tersebut sangat mirip dengan Kevin. Saat Charles Muntz tahu bahwa Carl memiliki Kevin, ia menyuruh anjing-anjingnya untuk mengejar Carl dan Russell serta Kevin yang melarikan diri. Mereka sempat akan tertangkap, namun gagal tertangkap karena bantuan dari Doug. Setelah sempat selamat, Charles Muntz benar-benar menyudutkan mereka dan berhasil mendapatkan Kevin, sementara Carl memutuskan untuk tidak menyelamatkan Kevin dan tinggal di Paradise Falls.
Carl, yang kembali menemukan buku petualangan dari Ellie, melihat bahwa kali ini yang dilakukannya juga salah, saat ia melihat berbagai foto-fotonya dan Ellie saat mereka masih bersama. Lalu ia melihat tulisan Ellie "Thanks for the adventure. Got a New one! Ellie." dan sadar bahwa ia harus menyelamatkan Kevin. Ia lalu keluar untuk bicara dengan Russell yang kesal terhadapnya, namun ternyata Russell sudah pergi duluan mengejar kapal raksasa Muntz dengan balon-balon dari rumah Carl. Carl berusaha menyusul Russell, yang ternyata disana tertangkap oleh Muntz. Setelah menyelamatkan Russell, ia menyelamatkan Kevin, namun bertarung dengan Muntz. Setelah Russell membawa rumah Carl ke atas kapal raksasa tempat Carl, Kevin dan Doug berada, mereka bersiap untuk pergi, namun Muntz menembaki balon dirumahnya dengan senapan. Carl tidak dapat bergerak karena ia menahan tali rumah tersebut, namun setelah ia mengecoh Muntz, ia menyuruh Russell, Kevin dan Doug untuk berpegangan ditali yang ia pegang, sementara Muntz jatuh dari ketinggian, menyebabkan kematiannya. Mereka bersuka cita karena berhasil membuat Muntz kalah, namun Carl merasa sedih karena rumahnya dan Ellie jatuh dari ketinggian tersebut.
Russell dan Carl, pulang ketempat asalnya dengan kapal raksasa Muntz dan mereka menghadiri upacara yang diikuti Russell. Russell mengangkat Carl sebagai ayah angkatnya, sementara Kevin sudah pulang ketempat asalnya dan Dug menjadikan Carl sebagai pemilik barunya. Mereka makan es krim dikedai es krim, sambil bermain-main menebak warna mobil. Dug, Carl, dan Russell hidup bahagia, sementara saat kembali ke Paradise Falls, rumah Carl dan Ellie mendarat dengan sempurna di Paradise Falls, tepat seperti yang mereka impikan.
Selama kredit, beberapa foto menampilkan kehidupan Carl setelah petualangan tersebut, sebagai kakek angkat Russell.

"Dr.Seus The Lorax"


ada sebuah kota bernama thneed ville kota itu dipimpin oleh seorang orang kaya bernama O-hare,hampir seluruh perabotan di kota itu dibuat dari plastik,bahkan pohon-pun diganti dengan pohon plastik yang memiliki lampu disko dan bisa memutar lagu,kota itu dipenuhi poulusi dan pencemaran lingkungan karena tidak ada udara,yang bersih.sementara itu adaseorang remaja pria bernama Ted dia diam-diam menyukai seorang gadis bernama audrey,tapi ted bingung bagaimana cara mengungkapkan perasaan kepada audrey,ternyata Audrey ingin melihat pohon yang sesungguhnya, bukan sekedar replika buatan manusia. Kalau itu yang diinginkan Audrey, Ted akan mencarinya. Apa pun akan ia lakukan untuk mendapatkan perhatian gadis yang jadi pujaan hatinya ini. Tentu saja ini bukan perkara gampang tapi tekad Ted sudah bulat. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pohon-pohon yang dulu tumbuh bebas di muka bumi,namun tidak semudah itu kini,Ted harus berhadapan langsung dengan pemimpin kota itu O-hare,ternyata diam-diam O-hare telah mengetahui,rencana dari Ted,dia-pun mencoba mengancam Ted tapi tekad Ted untuk,mendapatkan pohon asli tetap bulat,sampai akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang mengasingkan dirinya dari orang lain,yang mengetahui asal-usul permukaan bumi ini ! dia bernama Once-ler Ted kemudian mendengar cerita yang sangat miris. Ternyata lelaki itulah yang menjadi penyebab kehancuran lingkungan akibat sifat tamak yang ia miliki.Pengaruh orang-orang dan lingkungan di sekitarnya membuatnya berlaku kejam pada semua pohon. Saat pertama kali kedatangannya di hutan, ia langsung menebang semua pohon. Penghuni hutan tidak terima, karena hal ini akan menimbulkan kemarahan The Lorax,makhluk mungil penjaga hutan. Benar saja, di langit mendadak muncul cahaya dan The Lorax kemudian muncul di hutan. Once-ler itu akhirnya diputuskan untuk disingkirkan dari hutan.Saat Once-ler tertidur, penghuni hutan menariknya masuk sungai, ia akan dihanyutkan. Sayangnya, satu ekor beruang bernama gummy ikut terbawa, dan ia akan jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. The Lorax dan penduduk hutan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan keduanya. Usaha mereka berhasil, dan untuk sementara waktu Once-ler itu diijinkan tinggal di hutan asalkan ia berjanji tidak akan merusak hutan lagi. Sampai pada suatu saat,Once-ler mengingkari janjinya setelah kedatangan kekasih dan keluarganya karena kesuksesanyya. Tanpa perasaan semua pohon dibabatnya dan selanjutnya The Lorax kembali ke langit, sedangkan penghuni hutan pergi mencari hutan yang lain untuk ditinggali. Punahnya hutan membuat daya tarik daerah itu hilang. Kekasih dan keluarga Once-ler itu pun akhirnya memilih untuk meninggalkannya seorang diri. Ia sangat menyesal, namun sudah terlambat. Ia pun memilih untuk menyendiri sampai usia tua mendatanginya.
Setelah bercerita, lelaki itu kemudian memberikan satu-satunyya biji pohon asli yang masih tersisa kepada Ted agar bisa mewujudkan impian wanita yang ia cintai. Ia juga menitipkan pesan agar pohon itu dirawat supaya nantinya bisa menghasilkan pohon-pohon yang lain. Saat Ted kembali ke komplek, ia sudah dihadang oleh penjaga keamanan dan warga komplek yang merupakan orang suruhan O-hare yang menganggapnya sebagai pelanggar peraturan karena sudah berani keluar komplek. Namun beruntung neneknya dan Audrey berhasil meyakinkan penjaga dan warga akan pentingnya pohon untuk kehidupan,dan akhirnyya bumi kembali seperti semula,ditumbuhi pohon-pohon hijau,dan dihuni oleh banyak bintang,sementara itu O-hare dihukum diusir keluar kota,dan akhir-nya Once-ler pertama kali tampak keluar dari tempat pengasingan-nyya,dan ternyata lorax pun datang kembali untuk mengucapkan terima kasih.
Once-ler: ” Unless someone like you cares a whole awful lot, nothing is going to get better, it’s not “

Senin, 11 Februari 2013

"86.400 Detik Dalam Hidupmu''


Percayakah bahwa kau bisa mengubah dunia hanya dalam 86.400 detik?
Sehari ada 24 jam yang harus kau lalui. Dan dalam 24 jam itu, 86.400 detik harus kau jalani.
Anggap saja bahwa dalam 86.400 detik itu, kau punya satu kesempatan untuk mengubah segala hal yang ada di dalam hidupmu.
Seperti yang dilakukan Markos Lavnic ini misalnya. Satu detik saja ia mengubah keputusannya, maka ia tak akan memiliki semua kenangan bersama kekasihnya.
Suatu hari, ia bimbang ketika bertemu dengan seorang gadis yang memikat hatinya. Dalam 1 detik ia harus membuat sebuah keputusan yang berani. Dalam 1 detik itupula, sebenarnya perjalanan hidup dan cintanya ditentukan. Apabila keberanian itu tak pernah muncul, maka ia tak akan pernah punya kesempatan untuk merajut cerita cinta dengan gadis itu.
Inilah pilihan yang sulit, sama sulitnya seperti yang dihadapi semua orang, termasuk Anda.
Namun, Ada 86.400 kesempatan setiap hari yang bisa Anda gunakan untuk mengubah apapun yang Anda inginkan. Semuanya kembali pada Anda, apakah Anda akan mengambil kesempatan itu, atau hanya melewatkan 86.400 detik dan menunggu 86.400 detik lain yang tentunya akan berbeda.
Kesempatan itu mungkin datang 2 kali, tetapi berapa lama Anda harus menunggu kesempatan kedua datang? Berapa kali dari 86.400 detik Anda harus melewatkan setiap kesempatan karena hilang keberanian?
Teman, jika hanya dalam 1 detik saja kau bisa mengubah duniamu, mengapa kau harus menunggu 86.400 detik lain yang mungkin akan kau sesali?

"Kaya Dan Miskin"

Satu hari, seorang ayah yang berasal dari keluarga kaya membawa anaknya dalam satu perjalanan keliling negeri dengan tujuan memperlihatkan pada si anak bagaimana miskinnya kehidupan orang-orang disekitarnya. Mereka lalu menghabiskan beberapa hari di sebuah rumah pertanian yang dianggap si ayah dimiliki keluarga yang amat miskin.

Setelah kembali dari perjalanan mereka, si ayah menanyai anaknya :

“Bagaimana perjalanannya nak?”.

“Perjalanan yang hebat, yah”.

“Sudahkah kamu melihat betapa miskinnya orang-orang hidup?,” Si bapak bertanya.

“O tentu saja,” jawab si anak.

“Sekarang ceritakan, apa yang kamu pelajari dari perjalanan itu,” kata si bapak.

Si anak menjawab :

Saya melihat bahwa kita punya satu anjing, tapi mereka punya empat anjing.

Kita punya kolam renang yang panjangnya sampai pertengahan taman kita, tapi mereka punya anak sungai yang tidak ada ujungnya.

Kita mendatangkan lampu-lampu untuk taman kita, tapi mereka memiliki cahaya bintang di malam hari.

Teras tempat kita duduk-duduk membentang hingga halaman depan, sedang teras mereka adalah horizon yang luas.

Kita punya tanah sempit untuk tinggal, tapi mereka punya ladang sejauh mata memandang.

kumpulan kisah inspirasi terbaik
Kita punya pembantu yang melayani kita, tapi mereka melayani satu sama lain.

Kita beli makanan kita, tapi mereka menumbuhkan makanan sendiri.

Kita punya tembok disekeliling rumah untuk melindungi kita, sedangkan mereka punya teman-teman untuk melindungi mereka.

Ayah si anak hanya bisa bungkam.

Lalu si anak menambahkan kata-katanya : “Ayah, terima kasih sudah menunjukkan betapa MISKIN-nya kita”.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah inspirasi diatas :
  • Kaya dan Miskin tergantung pada persepsi kita sendiri, bukan pada penilaian orang lain.
  • Orang lain yang tampak miskin bagi kita, boleh jadi termasuk kaya menurut orang lain, atau bahkan mereka sendiri
  • Kisah diatas mendorong kita untuk selalu melihat perspektif lain...

"Ayah Dan Burung Gagak"

Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda tersebut?”
“Burung gagak,” jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras.
“Itu burung gagak ayah!”

Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, “BURUNG GAGAK!!”
Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah, “Gagak ayah.......”.
Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah.

kisah kisah inspirasi terbaik
“Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak ayah.....”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut sebuah diari lama.
“Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam buku diary itu”, pinta si ayah.
Si anak taat dan membaca bagian yang berikut..........
“Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apakah itu?”.

Dan aku menjawab, “Burung gagak”.

Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga.”


Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu.
Si ayah dengan perlahan bersuara, “ Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah.”

Salah satu hikmah dari kisah inspirasi diatas, adalah
“Kesabaran itu sesungguhnya milik seorang ayah. Tanpa mau dilihat, ia ingin berbuat”

Minggu, 10 Februari 2013

"Radio Transistor"


Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai, tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini.
Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu, arus sungai menjadi sangat deras. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan.
Beberapa kali terdengar suara gedebuk dari kebun belakang. Buah kelapa yang matang tak kuat lagi bergelantungan di pohonnya sehingga harus rela jatuh ke bumi menimbulkan bumi gedebuk tadi. Tak ada yang peduli. Selain pohon cokelat yang tumbuh serampangan, pohon kelapa menjadi penghasil kopra dan menjadi pendapatan lain selain padi dan jagung bagi penduduk kampung itu. Beberapa keluarga menanam ubi jalar dan ketela di antara pohon cokelat. Beberapa ratus meter ke arah bukit, terdapat pekuburan yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. Tak banyak penduduk yang suka datang ke pekuburan itu, selain untuk memakamkan warga kampung yang meninggal. Terlalu angker, kata mereka.
Kampung sebenarnya telah mati bersamaan saat matahari jatuh ke ufuk barat. Surau yang lebih banyak kosong berdiri rapuh di ujung jalan menghadap ke timur. Beberapa rumah terlihat masih menyisakan aktivitas. Terdengar suara bercakap dari penghuninya diselingi gerakan lampu minyak kemiri yang sering-sering hampir padam terkena angin dari sela-sela dinding rumah. Dinding rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki memang jarang-jarang. Itulah mengapa angin malam yang dingin menggigit bisa dengan leluasa memainkan api lampu kemiri yang menjadi penerang utama rumah-rumah penduduk. Aktivitas pemilik rumah juga dengan mudah terlihat dari luar. Hampir-hampir tak ada privacy. Bahkan, aktivitas di atas tempat tidur pun bisa terlihat dari sela-sela dinding rumah yang tak pernah tersentuh alat serut kayu.
Nenek Lido masih merapikan jagung-jagung kering sisa kebun yang dipetiknya tiga hari lalu. Rencananya, jagung yang telah mengeras itu akan ditumbuk di lesung kayu miliknya tepat di bawah pohon samping kandang dua ekor kambing miliknya di belakang rumah. Kakek Lido, suaminya, sangat gemar menyantap nasi campur jagung meskipun hanya berlauk ikan asin dan sayur daun berbumbu segenggam garam kasar.
Dua anak gadisnya, Jona dan Warni, berusaha menggotong pisang yang masih basah sisa hujan ke loteng darurat, tepat di atas ranjang keduanya. Jona yang lebih tua memanjat loteng terlebih dahulu untuk menarik ke atas sementara Warni adiknya mengusung pisang dari bawah. Dua orang gadis tangguh. Tak hanya secara fisik, tapi juga ketegaran menghadapi kemiskinan. Sesekali Nenek Lido memandang kedua anak gadisnya dari arah belakang. Ia masih sering memendam keinginan menggendong mereka dalam buaian kasihnya seperti ketika ia melahirkan mereka berdua. Nenek Lido melahirkan Jona ketika usianya telah mendekati masa menopause. Puluhan tahun ia menunggu kehadiran anak- anaknya. Tak terhitung dukun yang didatanginya. Ia telah hampir putus asa ketika Jona mulai ia hamilkan. Nenek sangat mencintai kedua putrinya itu meskipun orang-orang kampung sering kali menggunjingkan usianya yang tidak lagi muda.
Tak lama, upaya Jona dan Warni berhasil dan pisang bisa digantung di sebilah bambu yang dipasang melintang di loteng. Jona sempat berbalik ke belakang sebelum turun ke lantai bawah. Ujung telinganya seakan mendengar tarikan nafas di balik timbunan daun jagung yang menjadi dinding penahan angin di loteng bagian belakang. Tak ada apa-apa. Gelap.
Kakek Lido tak pernah beranjak dari tempatnya, kursi kayu sekaligus ranjang tempat tidurnya. Sudah tiga belas tahun dia menikmati hari-harinya di situ. Saat istrinya membopong pisang, jagung atau hasil bumi kebun mereka ke pasar untuk di jual dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer setiap Rabu, Kakek Lido tak pernah jauh beranjak dari tempatnya. Ia hanya gelisah jika suara radio transistor yang menjadi temannya sejak lama sekali mulai suak. Kakek Lido tak akan bisa tidur tanpa radio itu di samping kepalanya. Tak peduli apakah siaran di radio transistornya ia mengerti maksudnya. Tapi dunia seakan menjadi miliknya jika suara Elia Khadam melantun meskipun sesekali suara radio melengking akibat gelombang radio lagi jelek.
Nenek Lido bertubuh subur. Meskipun giginya hanya tersisa tiga buah di bagian kanan atas dan kiri bawah, senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Konon, nenek Lido dulu cantik. Banyak jawara kampung dulu mencoba mendapatkan cintanya. Tapi ia dengan tulus menerima pinangan kakek Lido sesuai keinginan ayahnya. Kata ayahnya, terlalu bodoh untuk menolak pinangan Lido muda. Rajin shalat dan punya empat ekor sapi gemuk. Lagipula, mana ada anak gadis di kampungnya yang berani melawan keinginan orangtuanya. Cerita tentang kecantikan itu mungkin saja benar sebab dua anak gadisnya manis, segar, dan kuat seperti ibunya.
Malam semakin dingin dan Nenek Lido berusaha menegakkan badannya untuk menuju ke ranjangnya. Dari kamar bagian tengah yang hanya dibatasi selembar kain bekas seprei yang tak lagi terpakai, dua anak gadisnya tak lagi terdengar suaranya kecuali derit ranjang kriaak… kriuuuk setiap ada pergerakan di atasnya. Kakek Lido tenggelam dalam buaian lagu entah siapa dari radio transistornya. Tapi kakek belum tertidur. Batuknya masih bersahut-sahutan pada beberapa jeda waktu.
”Kamu pinjam alu Puang Daha’ besok pagi. Alu kita patah,” Nenek Lido mematikan nyala lampu minyak kemiri yang terselip di tiang rumah. Tak jelas ia berbicara dengan siapa.
”Kata Nisa, kambing yang hitam kemarin makan bangkai di dekat kuburan. Coba kamu periksa apa dia terkena racun dari bangkai itu,” kata Nenek Lido lagi. Kakek Lido hanya menggerakkan tubuhnya di ranjang mininya pertanda mengerti perintah Nenek. Nenek Lido adalah kepala keluarga yang sebenarnya. Ia roh bagi keluarganya sekaligus pencari nafkah. Tak pernah ia mengeluh dalam hidupnya. Tidak juga ketika Kakek Lido memutuskan menjual dua petak sawah warisannya beberapa tahun lalu untuk selanjutnya membeli radio transistor dan sedikit diserahkan kepada istrinya untuk selanjutnya menikmati hari-harinya dengan radio transistornya. Tak pernah pula ada protes dari kedua anak gadisnya atas semua beban dan peran yang diemban ibunya. Mana berani keduanya masuk ke wilayah peran kedua orangtuanya? Semuanya seperti berjalan alamiah.
Malam merangkak jauh dan dingin semakin menggigit. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas sore tadi. Nenek Lido agak gelisah tidurnya. Ia sempat ke dapur dalam gulita untuk mencari sesuatu. Tapi kedua anak gadisnya telah lelap. Terdengan pelan suara krek… krreek… krreeek dari loteng. Sekelebat bayangan melompat ke tiang tengah rumah tepat di atas kamar Jona dan Warni. Rumah panggung itu bergerak. Nenek Lido menggerakkan kepala di atas bantal kusamnya seakan mendengar atau merasakan sesuatu. Akh, angin semakin kencang, pikirnya. Anjing melolong bersahut-sahutan di ujung kampung tepat dari arah kuburan. Tak terdengar suara apa-apa kecuali hujan yang jatuh ke atap rumbia, namun tak cukup keras untuk mengalahkan suara radio transistor Kakek Lido. Tiba-tiba.
”Siapa kamu? Aaakkhh… Kindo,” Jona dan Warni menjerit. Seseorang bertubuh besar bersarung dan berbaju kaus hitam berusaha menindih tubuh Jona. Warni melompat ke luar kamar dan berlari ke ranjang ibunya di dekat dapur. Jona berusaha melepaskan diri dari bekapan lelaki yang mendengus keras. Baju Jona telah robek di bagian depan.
Nenek Lido melompat dari tempat tidurnya. Rambutnya yang telah memutih di sana-sini berurai panjang kusut. Tak dihiraukan sarungnya melorot dan menyisakan celana pendek besarnya menggelantung tak beraturan di perutnya yang bergelambir.
”Siapaa…?” teriaknya setengah melompat.
”Siapa yang berani memegang anakku?” Nenek Lido telah sadar apa yang terjadi. Warni meringkuk di dekat ranjang ibunya sambil menangis.
Dengan keras, Nenek Lido menarik baju lelaki besar yang hampir berhasil memeloroti pakaian Jona. Lelaki itu tersentak keras. Kini ia menghadapi Nenek Lido dengan marah. Matanya berkilat menahan nafsu dan amarah. Nenek Lido mengenalinya: Rappe. Dengan sekali mengayunkan tangan, Rappe, jawara kampung sebelah, menempeleng wajah Nenek Lido dengan keras hingga terhuyung ke atas onggokan daun jagung sisa pekerjaannya tadi sore. Tapi Nenek Lido bisa bangun dan berhasil mencengkeram baju lelaki itu. Sebuah tendangan di bagian muka merontokkan gigi terakhir Nenek Lido. Dari arah belakang, Jona berteriak marah sambil memukulkan bambu obor yang selalu terselip di dinding kamarnya. Rappe semakin marah. Jona tertampar keras di bagian wajah sebelah kiri hingga terjengkang ke belakang.
Nenek Lido melengking marah. Ia melompat menghalangi Rappe yang akan menarik Jona. Rumah panggung itu bergoyang keras. Dalam gelap, Nenek Lido sedang bertarung mempertahankan permata hatinya. Rappe mundur. Wajahnya mengilat bengis dalam gelap malam. Ia tiba-tiba menarik sesuatu dari balik bajunya. Sebilah pedang pendek. Nenek Lido tetap berdiri membelakangi Jona yang menangis ketakutan.
Dalam gelap, sekelebat Rappe bergerak ke depan dengan tangan teracung dengan pedang di tangannya. Tak ada ruang bagi Nenek Lido untuk menghindar atau Jona tertebas di belakangan. Maka, dengan secepat kilat, nenek melompat ke depan menyambut tubuh Rappe. Terjadi tubrukan keras dan keduanya jatuh ke lantai. Dengan cepat Nenek Lido memegang tangan kanan Rappe dan membalikkan tubuhnya ke depan pintu kamar. Rappe kini terdesak dan berusaha menarik tangannya dari pegangan Nenek Lido. Cresss… Berhasil. Secepat kilat Rappe melompat ke pintu belakang dan menghilang ke dalam gelap dan hujan yang semakin deras. Jona melompat memeluk ibunya sambil meraung tangis, ”Kindo…..”. Warni tetap menangis di kamar ibunya dengan penuh ketakutan.
”Dia sudah pergi. Nyalakan lampu,” Nenek Lido menyuruh Jona. Tapi Jona semakin keras memeluk ibunya. Nenek membelai rambut putrinya yang merasakan tangan ibunya basah. Dengan susah payah, Nenek Lido melepaskan diri dari pelukan anaknya dan berusaha menyalakan lampu minyak kemiri. Tangannya gemetar dan nyeri. Lampu berhasil dinyalakan dan Jona menjerit lalu pingsan. Tangan dan baju ibunya yang lusuh penuh darah, kepalanya juga. Nenek Lido jatuh menyandar ke dinding. Ia memegang tangannya yang bersimbah darah. Tiga jari tangan kanannya telah hilang dari tempatnya tersayat pedang saat bergubung dengan Rappe tadi. Tapi Nenek Lido tidak menangis.
Tidak juga ia marah kepada Kakek Lido yang tak pernah beranjak dari tempat tidur dan radio transistornya saat pergumulan dengan mautnya tadi. Kakek bahkan tak pernah merasa perlu untuk menanyakan atau ikut nimbrung pembicaraan kampung ketika Rappe ditemukan mati dengan leher tertebas saat di pinggiran kampung sepulang dari minum tuak di kampung sebelah. Ia hanya sempat bertanya kepada beberapa orang yang melintas di depan apa bertemu dengan Nenek Lido yang belum juga pulang sejak sore hari, bertepatan dengan malam ditemukannya Rappe terkapar mandi darah di pinggir jalan tanah kampung. Kakek bermaksud menyuruh istrinya membeli baterai radionya yang mulai melemah.
Tapi Kakek Lido sadar bahwa kedua anak gadisnya marah kepadanya sebab tak pernah lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Toh ia juga tak terlalu peduli bahkan ketika kedua anak gadisnya menolak duduk di dekat pembaringannya beberapa saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan sejak peristiwa malam itu. Hanya Nenek Lido yang setia menemani Kakek di dekat kepalanya yang mulai melemah. Saat mendekati sakratul maut, Nenek Lido mendekatkan mulutnya ke telinga kakek dan membisikkan sesuatu. Entah apa. Tak ada yang tahu. Kakek tak bereaksi apa-apa. Hanya satu permintaan Kakek Lido saat akan meninggal: Dimakamkan bersama radio transistor miliknya dalam satu liang. Hanya itu.
Jakarta, 4 November 2005

"Requiem"


Sebelum mati, aku masih ingat tubuhku melenting: kakiku berkelejotan mencari tumpuan, sedangkan kepalaku menjadi tumpuan di ujung lainnya. Lalu seluruh tubuhku meregang, seolah menolak kehendak malaikat maut yang membetot nyawaku.
Waktu itu, samar masih kudengar tik-tak jam di dinding kamar. Suaranya seperti sebuah requiem. Kemudian secara perlahan-lahan aku melihat kaki, tangan, kepala, dan seluruh tubuhku melayang…
Ketika berhasil berdiri, istriku tampak sibuk memencet-mencet tombol telepon. Aku juga masih ingat ketika kemudian keponakanku membopong tubuhku sendirian menuju mobil yang dipinjam dari tetangga. Ia bergegas memanggil Magenta, istriku, untuk memangku kepalaku di jok belakang.
Dalam 30 menit, mobil sudah sampai di ruang ICU sebuah rumah sakit. Waktu aku dibaringkan di tempat tidur dan selang-selang dipasang di tangan serta mulutku, aku sebenarnya tak berharap untuk hidup kembali.
Magenta mungkin tak tahu bahwa aku menangis di bahunya, ketika ia hampir-hampir histeris meminta agar dokter segera memberi pertolongan. Air mataku bahkan membasahi sebagian baju tidur yang dikenakannya malam itu. Mungkin ia mengira itu keringatnya sendiri yang keluar karena tegang dan putus harapan menyaksikan penderitaanku.
Dokter aku lihat geleng-geleng kepala. Hanya mungkin karena gelengannya perlahan, Magenta tak begitu memerhatikannya. Tetapi ketika ia berucap, ”Ibu yang tabah ya…. Ini mungkin hanya cobaan awal,” istriku mulai meraung. Selain menuding-nuding para medis yang dinilainya tak becus memberi pertolongan, Magenta juga membentak-bentak keponakanku. Ia menuduh keponakanku sengaja melambat-lambatkan laju mobil agar nyawaku tidak tertolong. Padahal aku tahu, keponakanku itu sudah menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Tetapi karena jalanan yang berlubang, maka mobil terpaksa dizig-zag. Zig-zag itulah menurut Magenta sebagai cara keponakanku untuk memperlambat waktu tiba di rumah sakit.
Ketika Magenta mulai agak tenang, kudengar dokter berbisik di telingaku, ”Kamu mesti temukan jalanmu. Kalau ketemu persimpangan, lurus terus, terus, nanti di depan ada gerbang besar dengan seorang berambut aneh yang menjaganya.” Lalu ia minta bicara berdua dengan Magenta di ruangan sebelah yang hanya dibatasi tirai putih.
Tiba-tiba tik-tak jam dinding lagi-lagi terdengar seperti requiem yang dikomposisi khusus buatku. Nada-nada yang mengalir perlahan mencopoti tubuhku bagian demi bagian. Dengan latar awan dan langit yang beku, aku seperti benda yang tak memiliki gravitasi. Cuaca di sini begitu dingin. Matahari hanya sebentuk benda lembut yang beku. Sinarnya adalah selang-selang yang meneteskan serpihan es. Ketika kurasakan angin perlahan berembus, tubuhku malah terseret makin jauh… dan tersedot ke dalam lubang hitam yang dalam.
Terakhir aku dengar dokter berkata kepada Magenta bahwa aku telah mati karena gula darah yang anjlok. ”Ibu terlambat membawa dia kemari. Tubuh suami Ibu meregang karena gula darahnya anjlok. Ia pingsan sudah terlalu lama…. Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali berharap Ibu tetap tabah. Suami Ibu hanya pulang….”
”Apakah seorang dokter harus mengucapkan kata yang sama dengan seorang pendeta di saat-saat seperti ini?” teriak Magenta. Ah, perempuan itu memang jarang memikirkan kata-katanya sebelum diucapkan. Ia tak berpikir bisa saja dokter marah kepadanya. Dan jasadku akan terkatung-katung di rumah sakit ini.
Mereka bisa saja berpura-pura ingin tahu penyakit apa sebenarnya yang membunuhku. Lalu melakukan otopsi dengan mengiris-iris bagian demi bagian jasadku yang sudah kurus ini. Ah, pastilah sangat mengerikan menyaksikan tubuh sendiri diiris-iris dengan pisau-pisau yang besar….
”Seorang dokter atau pendeta bukankah hanya dibedakan oleh jenis pekerjaannya,” jawab dokter kemudian dengan maksud menenangkan. Magenta tercenung. Ia menghentikan teriakannya, kemudian lunglai menggelesot di lantai…. Aku kasihan padanya.
Kata-kata dokter itu benar juga. Ketika tadi aku berjalan lurus setelah bertemu dengan persimpangan, aku kini sampai di sebuah pintu besar berukir dengan motif dedaunan dan bunga. Tak jelas benar berfungsi sebagai apa gerbang itu, karena ia seperti digantungkan begitu saja di serpih awan. Sedekat ini, aku hanya melihat seorang tua renta dengan tongkat kepala naga. Ia berdiri tepat di tengah belahan kedua daun pintu.
Lelaki tua itu tak menegur dan hanya berucap pelan, ”Dosamu terlalu banyak, kembalilah.” Aku tak mengerti, yang kuingat kemudian aku mungkin sudah bertahun-tahun berjalan untuk menggapai gerbang itu. Kulintasi segala gurun, lembah, hutan dan hujan, segala terik dan batu-batu, belum juga aku mampu melewatinya. Bahkan aku pernah terombang-ambing dalam amukan badai petir dan kilat yang berkecamuk seperti menerkamku. Toh aku masih di sini, tetap berada di depan pintu.
Tetapi apakah dokter itu pernah mati? Kalau begitu aku makin paham sekarang, bahwa benar belaka kematian bukan akhir dari segala kehidupan. Sekarang ketika aku kembali di sini menjadi seekor anjing, segalanya masih kuingat. Aku masih ingat perempuan tua yang menjadi majikan besarku sekarang tak lain adalah Magenta. Mungkin usianya sudah mencapai 80 tahun, tetapi ia masih bersikeras tak mau menggunakan kursi roda.
Hari Minggu lalu, ketika ia jatuh di kamar mandi dan aku berteriak-teriak mengabarkannya kepada seluruh penghuni rumah, Marjolin, cucu perempuan kesayangan Magenta, sudah mengusulkan agar ia memakai kursi roda pemberian kakek. Entah mengapa Marjolin punya kepedulian yang begitu dalam terhadap kursi roda itu. Kursi roda itulah yang pernah kuhadiahkan kepada Magenta ketika ulang tahun perkawinan kami yang ketujuh. Aku ingat, ia marah-marah dan menuduhku mengada-ada. Kursi itu, katanya, semacam doa pengharapanku agar ia lumpuh. Kemudian aku bisa bebas bersenang-senang dengan perempuan lain.
”Kamu ini suami aneh, kok justru mengharapkan istrinya duduk di kursi roda. Kalau maksudnya agar kamu lebih bebas bermain-main dengan perempuan lain, tak perlu pakai cara-cara halus seperti ini,” kata Magenta. Ketika melihat aku tak bereaksi dan tenang saja menggosok gigi di wastafel dekat kamar mandi, setengah berteriak Magenta bilang, ”Potong saja kakiku, kalau itu maumu…!”
Sekarang aku menyesal karena waktu itu berpura-pura tak mendengar. Mestinya aku tahu perkataan Magenta itu, sebagai bukti betapa dalam cintanya kepadaku. Seharusnya aku berusaha menjelaskan bahwa hadiah kursi roda itu pun juga sebagai bentuk pernyataan cinta sejatiku kepadanya. Kursi roda hanya simbol bahwa aku ingin hidup dengannya sampai tua nanti. Sampai kami berdua benar-benar tak bisa berjalan dengan kaki kami sendiri.
Rasa penyesalan yang dalam serta keinginan kuat untuk menebus kesalahan kepada Magenta itulah, barangkali yang membuat aku tetap bisa bersamanya sampai kini. Usia kami jauh berbeda. Magenta sekarang sudah 80 tahun, sementara aku belum genap lima tahun. Kehadiranku dalam keluarga ini berkat rasa belas kasihan Marjolin yang memungut aku dari got di depan rumahnya.
Ketika usiaku baru satu hari, majikanku pertama, yang tinggal di sebuah gang sempit di belakang rumah Magenta, membuangku ke dalam got. Aku dengar dia bilang, anjing betina tidak terlalu berguna, paling-paling hanya bikin rusuh kampung. Ketika musim kawin tiba, anjing-anjing jantan akan berkeliaran di sekitar gang. Belum lagi, katanya, kalau aku kawin dengan cara berenteng-renteng, akan menambah heboh seluruh kampung.
Ketika Magenta jatuh untuk ketiga kalinya, ia benar-benar tak bisa menolak saran Marjolin. Kursi roda yang selama ini diletakkan di samping kursi lainnya, di mana Magenta biasanya menonton televisi, terpaksa ia pakai. Dan itulah puncak kebahagiaanku. Magenta tampak mencoba menggeser-geser roda kursi beberapa kali. Ia bahkan beberapa lama sempat berkeliling ruangan. Diam-diam aku mendekat dan menjilati kakinya. Mudah-mudahan ia ingat, hal yang sama pernah kulakukan ketika malam pertama pernikahan kami.
Aku masih ingat benar bagaimana Magenta menjerit-jerit manja sembari mengatakan geli. Kami lantas bergumul semalaman sampai matahari benar-benar menembus celah gorden warna cerah kesukaannya. Sekarang Magenta hanya mengelus kepalaku. Itu pun kuperhatikan tidak sungguh-sungguh karena tangannya yang lain sibuk memencet-mencet tombol remote control televisi. Tetapi aku ingat, gerakan jarinya persis seperti ketika ia memencet-mencet tombol handphone sesaat sebelum aku mati.
Ketika ia menemukan channel yang menurutnya pantas dilihat oleh seluruh anggota keluarga, Magenta berteriak-teriak panik. Berkali-kali ia memanggil Marjolin, yang kebetulan saat itu sedang di kamar mandi. Aku lihat di televisi orang-orang panik, sementara sebuah gedung tampak terbakar. Asap hitam mengepul di antara puing-puing kaca serta mobil-mobil yang terbakar.
”Jolin, cepat… aku sudah jemu jadi saksi atas semua ketidakadilan ini. Bom meledak lagi. Ah, Tuhan, mengapa sejak dulu aku hanya jadi saksi dari kematian demi kematian. Jolin, besok pesankan saja peti mati dan sepetak tanah kuburan. Aku sudah lelah disuguhi kiamat semacam ini…,” Karena Marjolin tak juga keluar, aku menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan kakiku.
”Jolin… cepatlah. Jangan biarkan aku sendirian menjadi saksi…,” teriak Magenta histeris. Ia tampak tak berdaya, bahkan sekadar mengganti channel televisi pun ia tak sanggup.
”Ada apa, Oma?” buru-buru tanya Marjolin sesaat kemudian.
”Aku tak sanggup lagi disuguhi kematian demi kematian. Sejak kakekmu mati mendadak dulu, seperti tak ada harapan lagi buatku untuk hidup. Besok kamu pergi ke pasar, pesankan aku peti mati dan bunga dukacita atas namaku sendiri….”
Sebelum Marjolin berkata aku meraung di kaki Magenta, persis sewaktu ia mendengar rintihanku saat-saat menghadapi maut. Mungkin ia tak pernah sadar kalau aku benar-benar menangis seperti bayi yang kaget melihat dunia. Aku juga kaget, mengapa secepat itu harus mati dengan cara yang menyakitkan banyak hati.
”Oma? Oma… sadar Oma…,” Marjolin histeris melihat Magenta lunglai di atas kursi roda. Secepat kilat aku berlari keliling rumah dengan maksud mengabarkan keadaan Magenta. Setelah melihat seluruh ruangan kosong, aku berlari ke depan rumah mencari pertolongan. Tetapi tak seorang pun tampak.
Aku malah berjumpa seorang tua dengan tongkat kepala naga yang kutemui dulu di gerbang yang besar itu. ”Ia sudah lelah, sudah saatnya kembali. Relakan saja…. Kamu harus di sini, sampai benar-benar terbebas dari ikatan duniawi,” katanya.
”Apakah Anda malaikat?” tanyaku.
”Bukan, aku seseorang yang selalu membawa buku besar tentang segala perbuatan manusia, termasuk segala prilakumu saat kau terlahir seperti sekarang?”
”Terlalu besarkah dosaku di masa lalu sehingga terlahir sebagai anjing?” tanyaku mengambil kesempatan. Lelaki tua itu tak menjawab. Ia tiba-tiba melayang memasuki rumah kami. Di ruang dalam, Marjolin menangis sejadi-jadinya, saat yakin Magenta telah tiada. Ia tak tahu kalau lelaki tua bertongkat kepala naga itu telah membawanya melayang, melewati kisi-kisi jendela.
Aku paham sekarang mengapa Derida, suamiku, meregangkan tubuhnya ketika menghadapi maut dulu. Itulah rupanya cara dia melawan kehendak waktu. Sewaktu ruhku meloncat dari tubuhku, aku dengar tik-tak jam yang kupajang di atas televisi, menjadi requiem yang mengantar kepergianku. Aku juga tahu, Derida berlari-lari ke setiap kamar dan ke halaman untuk mencari pertolongan. Itu juga cara dia untuk melawan malaikat maut yang hendak menjemputku.
Mungkin karena kehendak untuk terus melawan tanpa henti itu, ia terlahir sebagai anjing. Padahal aku tahu, selama ini ia begitu setia, lelaki yang memendam merahnya cinta seumur-umur sampai harus mengada dalam wujud yang sangat terlambat kukenali.